8:13:00 PM
|
by Bernad Adjie
Bentuk Geometri apa yang tidak Anda sukai?
Ahli psikologi mengatakan bahwa bentuk geometri yang tidak disukai merupakan salah satu hal penting untuk mengungkapkan perasaan. Bentuk adalah unsur dasar dari lingkungan sehari-hari dan hubungan mendalam dengan jiwa kita. Menurut Susan Dellinger, Ph. D., bentuk yang tidak kita sukai melambangkan bagian dari kepribadian yang tidak ingin kita tunjukkan pada dunia dan sulit untuk kita ungkapkan.
Sekarang, saatnya memilih bentuk geometri yang tidak Anda sukai. Apakah persegi panjang, segitiga, bujursangkar (persegi), atau lingkaran? Atau jalan yang berkelok-kelok?
Mari kita lihat satu per satu maknanya.
- Jika Anda tidak menyukai bentuk persegi
panjang. Anda adalah seorang pengambil tindakan yang tegas. Sebagian besar orang menyukai persegi panjang di kala sedang mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan, tidak berdaya, dan ingin berubah. Jika Anda tidak menyukai bentuk ini, berarti anda adalah pengambil keputusan yang berpikir, bertindak, cepat, dan percaya diri. Sebagai pemikir yang tegas, Anda bisa menduga situasi dan menemukan solusi yang hebat ketika orang-orang sedang melihat masalah.
2:00:00 PM
|
by Bernad Adjie
Pernah tidak kamu berpikir dan bertanya “Apa yang membuat orang berterimakasih kepadaku?” Tahu apa yang membuat kita istimewa di hadapan orang lain adalah cara hebat untuk meningkatkan percaya diri. Silakan jawab pertanyaan berikut untuk mengetahui keistimewaanmu.
1. Tanpa memperhatikan harga, mobil yang paling kamu suka:
a. Mobil van yang bisa muat banyak
b. Mobil jeep yang kokoh
c. Mobil kecil seperti Mini Cooper atau Beetle
d. Mobil ramah lingkungan
e. Mobil sport
2. Warna pastel yang kamu suka untuk cat kamarmu:
a. Hijau muda
b. Putih
c. Kuning
d. Biru muda
e. Peach
3. Kamu menggunakan waktu luang untuk:
a. Jadi relawan dalam komunitas
b. Pergi shopping
c. Pergi dengan sahabat karib
3:22:00 PM
|
by Bernad Adjie
Gaya cemas setiap orang berbeda-beda. Gaya cemas mungkin berasal dari peninggalan masa kanak-kanak, 2/3 berasal dari keluarga kita sendiri dimana saat kecil kita mengira orang tua kita tidak cukup pencemas. Cemas sebenarnya tidak nyata. Cemas adalah alur pemikiran fokus pada apa yang mungkin terjadi. Cemas tentu bisa dihindari dengan menghentikan negative thinking.
Jawab pertanyaan berikut untuk mengetahui gaya cemasmu!
1. Seorang sahabat berkunjung ke rumahmu. Tapi dia tidak muncul dan tak kunjung tiba. Kamu berpikir:
a. Jangan-jangan dia kecelakaan.
b. Mungkin dia harus pergi ke tempat lain dulu.
c. Jangan-jangan saya salah memberi petunjuk jalan.
2. Kamu ada masalah dengan tugas. Yang kamu cemaskan:
a. Saya bisa dicap jelek bahkan keluar dari anggota tim kerja.
b. Saya mengecewakan orang lain.
c. Harusnya saya mulai dari awal dan bekerja keras.
3. Seumpama tabunganmu sedikit, hampir tidak bisa memenuhi kebutuhan. Yang dicemaskan:
a. Bagaimana kalau saya tidak bisa memenuhi kebutuhan?
b. Apa kata orang lain?
c. Ini tidak akan terjadi bila saya susun rencana dengan baik.
9:19:00 PM
|
by Bernad Adjie

Ini adalah tulisan terakhir seseorang yang ditujukan kepadaku sebelum akhirnya kita berpisah untuk selamanya.
O…iya, Ji akhir2 ini…jujur lo Ji…ini bukan maksud menghina…atau apa...maap...maap kate ini…’Kayaknya……ada yang berubah dari elu deh?!’ Sejak pertama kenal dan tau elu di kelas 7 dulu…belum pernah gue lihat elu punya sikap begini deh. Ya…gue gak ada maksud…nyela elu. Ini bukan berarti jelek. Mungkin Cuma perkiraan gue aja kali ya? Jadi bisa salah bisa juga enggak. ‘Berani’….kata itu yang mau gue bahas. Elu keliatan lebih berani dibanding Aji yg gue kenal sewaktu kelas 7. Elu klo gue bandingin sama anak2 kls 8A sekarang 80% sama deh. Cuma gue pesen jangan ditambah yg 20% nya alias 100% sama dgn anak2 kls 8A. Rusak yg ada elu. Lebih bagus elu yg saiki. Tapi bukan berarti elu gak bisa meningkatkan dan merubah sesuatu yg ada dalam diri elu. Itu hak elu untuk berubah. Tapi gue kasih rem aja ya… Gue pesen jangan melampaui batas. Be Good Boy! Ok!...
8:46:00 PM
|
by Bernad Adjie
Kisah tentang seorang ibu dan anak. Ibu bertanya, “Bagian tubuh apa yang terpenting?”
Anak yang sering mendapat nasehat dari ibu, dengan lugu dia menjawab, “Telinga.”
Ibu menjawab, “Salah, itu kurang tepat. Nyatanya masih banyak orang tuli.”
Beberapa tahun kemudian, ibu kembali bertanya, “Bagian tubuh apa yang terpenting?”
Anak menjawab, “Mata.”
Lagi-lagi ibu menjawabnya, “Kurang tepat. Nyatanya masih banyak yang buta.”
Beberapa tahun kemudian kakek anak itu meninggal. Dilihatnya semua menangis. Terutama sang ayah. Anak sudah tumbuh dewasa walau mungkin tak sedewasa yang dipikirkan. Ibu kembali bertanya, “Bagian tubuh apa yang terpenting?”
Anak tak menyangka di keadaan seperti ini tiba-tiba ibu masih menanyakannya. Dikira ini hanya permainan tebak-tebakan semata.
“Anakku sayang ini pertanyaan penting. Bagian tubuh yang terpenting adalah bahumu.”